Jumat, 27 Juni 2014

Refleksi UTS (Ujian Tanpo Sinau :D)

Bismillah..

Semester terberat. Semester 2 mata kuliahnya semakin mengerikan. Banyak PR (h-1 baru mulai ngerjain), laporan (H-beberapa jam baru selesai). Hari demi hari, minggu minggu kuliah terlewati, sungguh tak terasa waktuku terlewati begitu saja, kemudian aku bertanya, kemana waktuku hilang? Padahal aku membayangkan aku punya banyak waktu, akan tetapi kenapa semuanya berantakan? Belajar pun tidak maksimal, mana mau dapat ilmu kalau terus seperti ini. Aku mulai kesal terhadap diriku sendiri. Puncaknnya, di UTS semester 2 aku terpaksa menggunakan sistem SKS yang berefek pada hancurnya badan ini. Tidur 2 jam selama uts ditambah tumpukan kafein yang semakin banyak, aku telah menyakiti tubuhku. Semuanya hanya karena pada hari-hari kuliah malas mengerjakan PR, belajar pun aku terkesan meremehkan, meremehkan penjelasan dosen, merasa sudah paham, dan tidak mencatat hal penting dengan alasan “besok aku juga masih inget kok”, terus the biggest lie “ah besok aja, seminggu sebelum UTS pasti aku bisa mengejar kok”. Di saat teman-teman lain mulai menemukan semangatnya berkuliah, aku justru kehilangan ruh untuk kuliah. UTS semester 2 aku lalui dengan jiwa yang tidak santai, tertekan, dan merasa ketinggalan dari teman-teman lain. Dan aku bertanya lagi, “apa sih yang aku kejar?” nilai? Memangnya nilai bisa mengantarmu ke surga? #jleb. Dan sekarang, UTS telah berakhir, aku tidak akan membiarkan diriku terseret dalam ketidaknormalan ini. Kemudian aku teringat apa yang pernah aku tulis dalam catatan buku SMA-ku:

“Hidup bukan untuk ditangisi, melainkan untuk diperjuangkan”


Sabtu, 03 Mei 2014

Semester 1 #3

“Sebisa mungkin jangan ditunda, karena.. ada harga yang harus dibayar dari sebuah penundaan”

Teknik Digital (2 SKS)

Dosen: Ir. Priyatmadi,M.T.

Terima kasih kepada Pak Pri atas ilmu yang telah diberikan. Dosen yang satu ini memang luar biasa (y).
Terima kasih kepada mas Tama (Ade Pratama S.K) TE 2012 atas tutorial yang diberikan.
Mata kuliah ini membahas menganai konsep digital, yang di dalamnya hanya ada logika 0 dan 1, benar dan salah, tinggi dan rendah, dsb.  Menarik sekali, teknologi yang sangat canggih saat ini hanya menggunakan logika 0 dan 1. Komputer misalnya. Membuat aku semakin tertarik dengan mata kuliah ini.

Awalnya dijelaskan tentang perbedaan analog dan digital, keuntungan menggunakan sistem digital, dan konsep bilangan biner, oktal, dan heksadesimal. Kemudian tentang gerbang logika, aljabar boolean, agak meningkat ke peta karnaugh, dan diperkenalkan dengan logika kombinatorial dan sekuensial. Logika kombinatorial meliputi adder, decoder, multiplexer, dsb. Kemudian logika sekuensial seperti latch, flip-flop, counter. Dalam pembahasannya lebih ditekankan ke “logic” dan pemahaman akan konsep digital. Untuk urusan elektronis tidak diajarkan karena memang belum waktunya

Bahasa Jogja!

Bismillah..

Bahasa Jawa ala Jogja

Bahasa jawa banyak sekali macamnya, dari mulai logat, kosa kata, atau mungkin tingkatan berbahasa, dan lain-lain.

Kali ini penulis mencoba mengamati bahasa jawa ala masyarakat jogja. Pengamatan dilakukan penulis terhadap masyarakat jogja yang penulis jumpai. Entah itu teman, tetangga kos, orang jualan atau yang lain.
1.   
         ** Penggunaan akhiran “e” atau “je”

Selasa, 25 Maret 2014

Cerdas dalam Ilmu dan Amal


Tulisan ini dibuat oleh seorang anggota Cendekia Teknika (CT)

 “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”
“Jika kamu tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung pahitnya kebodohan”

Dan berkata seorang teman,
“Jangan pernah merasa cukup belajar”

Ilmu itu sangat luas, dalam, dan tidak akan pernah habis. Tahukah seberapa ilmu Allah, Sang Maha pencipta, satu-satunya dzat yang berhak kita ibadahi dengan benar? Perumpamaan ilmu Allah adalah jika tujuh lautan dijadikan tinta ditambah dengan tujuh lautan lagi, dan pohon-pohon di seluruh dunia ini dijadikan pena, maka tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah. Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah.
Jadi sedalam-dalamnnya ilmu yang kita miliki tetap saja sangat jauh dibandingkan ilmu Allah.

Minggu, 16 Maret 2014

semester 1 #2

Bismillah..
Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah..

“Bermimpilah, dan berjuang lah untuk meraihnya”

Yups, selesailah perjuangan hidupku (halah) selama satu semester di Teknik Elektro UGM!
Sungguh, satu semester yang luar biasa! Banyak hikmah yang aku dapatkan. Mulai berhadapan dengan kehidupan yang berbeda jauh dengan SMA, bertemu dengan teman-teman yang hebat, bertemu dengan kakak angkatan yang menginspirasi, dan dosen yang sangat ahli dalam bidangnya masing-masing. JTETI memang kereeen broo!

Waktu memang cepat sekali berlalu, perasaan baru kemarin aku bayar UKT yang super mahal itu *eh *tolak UKT! *upss, ternyata sekarang udah punya IP semester 1 hahaha (walaupun nilai belum keluar semua)

Well, di tulisan ini aku akan sedikit mencoba mereview perjalanan akademik selama satu semester ini, bukan pamer atau apa sih, cuma biar aku lebih inget lagi apa yang dipelajari di semester 1, juga bisa dijadikan bahan evaluasi untuk kedepannya. Oiya FYI, di semester 1 ini aku selalu masuk kuliah, dan tidak pernah satu kali pun bolos hahaha. Apalagi TA, NO WAY BRO! :D
Semester 1 masih paket 20 sks jadi ya tinggal jalan/lari aja, plug and play. Ada 9 mata kuliah yang terdiri dari 7 mata kuliah teori dan 2 mata kuliah praktikum.

Sabtu, 08 Februari 2014

semester 1

“Bermimpilah.. kemudian berjuanglah untuk meraihnya”
#ThePowerofDream


Alhamdulillah, semester 1 selesai..
Satu semester sudah aku menjadi mahasiswa, setelah menjalani rangkaian ospek yang cukup menguras energi sekaligus waktu. Mulai dari ospek universitas dengan nama resmi PPSMB Palapa, kemudian dilanjutkan dengan ospek fakultas teknik dengan nama resmi PPSMB Prajurit, yang masing-masing dilaksanakan selama 2 hari, jadi total 4 hari. Walaupun ospek masih menjadi pro kontra banyak pihak, tetapi aku mengambil sisi positifnya saja (positive thinking), “orang yang bijak adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian” #SuperSekali. Sebenarnya tujuan ospek itu baik, yaitu untuk “mengenalkan” dunia kampus yang sangat berbeda dengan dunia sekolah, kemudian untuk mengubah pola pikir mahasiswa baru bahwa mereka bukan lagi seorang siswa, tidak lagi sekolah, namun sudah kuliah, dan menjadi seorang mahasiswa! Akan tetapi mungkin dalam pelaksanaan ospek masih terdapat hal-hal yang kurang baik, sehingga tujuan dari diadakannya ospek justru tidak tercapai. #yoiiiii.

Rabu, 12 Juni 2013

One Step Closer


Hari yang cukup melelahkan. Kekecewaan pasti ada, tapi semua memang harus disyukuri. Alhamdulillah..
Buktikan!

Kali pertama aku menginjakkan kaki di gedung Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (JTETI), kesan pertama biasa saja, tak seperti yang ku bayangkan sebelumnya, yang jelas AC di dalam sebuah ruangan cukup dingin, lumayan bisa menyejukkan badan setelah terkena sinar panas matahari di perjalanan sepanjang lebih dari 30 KM. Kedatanganku di JTETI ini bukan untuk kegiatan perkuliahan (perkuliahan belum dimulai broo), namun untuk hal penting yang kaitannya dengan keberadaanku di JTETI saat kuliah nanti. Aku baru tau ternyata gedung JTETI bersebelahan dengan gedung Jurusan Teknik Mesin dan Industri (JTMI). Sebagai perbandingan saja, gedung JTMI terkesan agak kuno, karena mungkin cat temboknya yang belum diganti, berwarna kuning. Sedangkan JTETI berwarna seperti abu-abu, dan kelihatan baru, jadi secara umum gedung JTETI lebih enak dipandang daripada gedung JTMI. Karena mata tak bisa bohong.

One step closer..

Ya semoga semua baik-baik saja.